Jumat, 27 September 2013

RADAR KEDIRI, SIMBOL JURNALISTIK KARESIDENAN KEDIRI

Hari Kamis, tanggal 27 Juni 2013, menjadi hari yang tak pernah terlupakan. Saya bersama teman-teman Mahasiswa UNP Kediri Prodi PBSI Tingkat 4 melakukan kunjungan ke kantor Radar Kediri yang terletak di Desa Mutih, Kecamatan Gampengrejo, Kab. Kediri. Rombongan kami berkumpul di kampus II UNP Kediri pukul 15.00, kemudian berangkat bersama-sama menuju kantor Radar Kediri sekitar pukul 15.30. Rombongan kami berjumlah 45 mahasiswa dari berbagai kelas.
            Setiba di kantor Radar Kediri, kami langsung disambut hangat oleh para turis asing yang berasal dari berbagai negara, antar lain Australia, Thailand, dan Singapura. Mereka baru saja mengunjungi Radar Kediri untuk melakukan penelitian tentang kebudayaan dan kesenian Indonesia. Kami juga sempat bercengkerama dengan mereka, meskipun kami menggunakan Bahasa Inggris yang kacau. Saya sangat terkejut ketika saya mengucapkan “welcome”, ada turis yang malah berkata “selamat datang, sugeng rawuh”. Sontak saya dan teman-teman tertawa terbahak-bahak.

            Setelah sekitar 30 menit kami menunggu di luar, akhirnya rombongan kami dipersilakan masuk menuju sebuah ruangan di lantai II. Ruangan itu ber AC, ada meja dan kursi pertemuan, layar proyektor, dan media audio visual. Selang 10 menit kemudian, Bapak Subardi Agan menyampaikan sambutan dan ucapan terima kasih kepada pihak Radar Kediri yang telah memberikan izin kepada para mahasiswa UNP setiap tahun untuk berkunjung ke Radar Kediri.
            Dilanjutkan dengan pemaparan seputar Radar Kediri dan media massa cetak yang disampaikan oleh C.O. Radar Kediri, Bapak Tauhid. Beliau menjelaskan sejarah media massa cetak dari zaman sebelum masehi hingga berkembang seperti sekarang ini. Dari penjelasan Beliau, kami mengetahui bahwa Radar Kediri merupakan termasuk group Jawa Pos yang berdiri sejak tahun 1999. Ada beberapa teman yang mengajukan pertanyaan tentang materi yang telah disampaikan.
            Materi selanjutnya disampaikan oleh Bapak Haris. Beliau menjelaskan detail proses dan tahapan pembuatan surat kabar Radar kediri setiap harinya. Tahapan pertama dimulai dari pencarian berita oleh para wartawan dan sumber berita yang lainnya, dilanjutkan pengumpulan berita di kantor Radar Kediri. Mulai pukul 17.00, kesibukan kru Radar Kediri semakin meningkat, yang puncaknya sekitar pukul 18.00, yaitu mengedit berita per halaman, per kolom, hingga menjadi sebuah surat kabar Radar Kediri yang biasanya terdiri dari 8 halaman. Berita yang sudah tertatat rapi itu selanjutnya dibawa ke daerah Nganjuk pada pukul 23.00 untuk dicetak menjadi 23.000 eksemplar.
            Setelah penyampaian materi, kami dipersilakan untuk menuju ke ruangan redaksi. Di ruangan itu, kami diberikan kesempatan untuk melihat langsung proses penyusunan surat kabar oleh para kru Radar Kediri. Ditengah kesibukannya, mereka masih sempat menyambut kami, menyapa kami dengan ramah, dan menjawab berbagai pertanyaan yang kami ajukan, meskipun dengan tetap sambil bekerja. Saya membayangkan aktifitas sesibuk ini dilakukan mereka setiap hari, tanpa ada liburnya, sangat menantang.
            Setelah puas di ruang redaksi, akhirnya kami pamit untuk pulang. Sebelum pulang, kami sholat jama’ah maghrib dulu di musholla Radar Kediri. Meskipun badan terasa lelah, namun kami sangat senang, karena mendapatkan wawasan, pengalaman, dan pengetahuan baru yang kami peroleh dari kunjungan ke Radar Kediri ini. Semoga saja lain waktu saya bisa berkunjung lagi ke Radar Kediri hingga tengah malam, supaya bisa melihat secara langsung proses mesin cetak dalam mencetak 23.000 eksemplar koran Radar Kediri. Sekian.

0 komentar:

Posting Komentar